KOLAKA, KABARKENDARII.COM — Berangkat dari kebutuhan untuk meningkatkan kemampuan guru dalam memahami karakteristik peserta didik berkebutuhan khusus (PDBK), SLBN 2 Kolaka menggagas kegiatan In House Training (IHT) identifikasi dan Asesmen Anak Berkebutuhan Khusus yang melibatkan 12 SLB dari Kabupaten Kolaka, Kolaka Utara, dan Kolaka Timur.

Kepala Sekolah SLBN 2 Kolaka, Kusnawati, S.Pd
Kegiatan tersebut menghadirkan unsur Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SLB Sulawesi Tenggara sebagai bagian dari upaya memperkuat pemahaman guru mengenai proses pengenalan dan asesmen. Kegiatan ini diikuti guru dari berbagai sekolah, bahkan sejumlah sekolah mengutus dua hingga empat guru untuk mengikuti pelatihan.
Keterlibatan SLB Kolaka Utara juga menjadi perhatian tersendiri. Meski belum mendapatkan dana BOS, sejumlah sekolah dari wilayah tersebut tetap berkomitmen hadir dan mengirimkan guru untuk mengikuti kegiatan.
Kepala SLBN 2 Kolaka, Kusnawati, S.Pd., mengatakan kegiatan tersebut pada akhirnya memberikan manfaat besar bagi guru dan sekolah, terutama dalam memahami pentingnya melakukan identifikasi secara tepat sebelum menentukan layanan pendidikan bagi peserta didik.
“Sebenarnya kegiatan ini saya ambil positifnya. Awalnya saya menolak, tapi kegiatan ini penting untuk membekali guru,” ujar Kusnawati.
Menurutnya, pemahaman mengenai pengenalan dan asesmen menjadi sangat penting karena peserta didik yang masuk ke SLB memiliki karakteristik dan kebutuhan yang berbeda-beda. Sekolah tidak hanya dapat berpedoman pada informasi awal yang disampaikan orang tua, tetapi perlu melakukan proses identifikasi dan asesmen untuk mendapatkan gambaran kondisi anak secara lebih tepat.
Kusnawati mencontohkan seorang peserta didik baru yang datang bersama orang tuanya dan terdaftar dengan kategori autis. Setelah dilakukan identifikasi lebih lanjut, kondisi anak tersebut ternyata lebih mengarah pada gangguan pendengaran atau tuna rungu.
“Ini merupakan salah satu contoh bahwa kegiatan seperti ini sangat bermanfaat. Pelaporan dan komunikasi kepada orang tua siswa juga sangat penting, karena kita harus mengetahui kondisi anak secara tepat agar pembimbingannya sesuai dengan kebutuhannya,” jelasnya.
Ia menilai pengalaman tersebut menjadi pembelajaran bagi sekolah bahwa proses penerimaan peserta didik baru tidak berhenti pada saat pendaftaran. Guru perlu memiliki kemampuan melakukan identifikasi awal agar sekolah dapat menyusun layanan yang sesuai dengan profil masing-masing anak.
Materi IHT yang disampaikan Ketua MKKS SLB Sulawesi Tenggara, Yafsin Yaddi, S.Pd., M.Sos., menekankan bahwa kondisi peserta didik sangat beragam, baik dari aspek intelektual, sosial, emosi, komunikasi maupun fungsi gerak. Oleh karena itu, setiap peserta didik memiliki karakteristik unik yang membutuhkan pendekatan dan layanan yang sesuai.
Yafsin menjelaskan, identifikasi merupakan proses untuk menemukan dan mengenali keberagaman peserta didik serta menentukan apakah seorang anak memiliki hambatan tertentu. Sementara asesmen dilakukan secara sistematis dan komprehensif untuk menggali kemampuan, hambatan, kebutuhan, serta potensi anak sebagai dasar pemberian layanan pendidikan.
“Setiap anak memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Oleh karena itu, guru harus mampu mengenali anak secara tepat sebelum menentukan program pembelajaran dan layanan yang diberikan,” kata Yafsin.
Ia menegaskan, hasil identifikasi dan asesmen bukan sekadar administrasi sekolah, tetapi menjadi dasar penting untuk mengetahui profil anak dan menentukan program pembelajaran yang sesuai.
Dalam materi pelatihan, guru diarahkan untuk mengetahui apa yang sudah dikuasai peserta didik, apa yang belum dikuasai, potensi yang dimiliki, serta kebutuhan anak. Hasil tersebut kemudian dapat menjadi dasar dalam pengembangan program pembelajaran individu atau PPI.
Kusnawati berharap kegiatan tersebut tidak berhenti sebagai pelatihan, tetapi menjadi awal dari peningkatan kompetensi guru SLB secara berkelanjutan.
“Saya berharap semua guru SLB harus terus upgrade untuk mendapatkan ilmu, karena mereka berhadapan dengan anak-anak yang sangat bervariasi. Semoga pemerintah melirik bahwa kami guru-guru SLB membutuhkan pelatihan yang lebih mendetail tentang masing-masing ketunaan, agar pembimbingan anak bisa lebih maksimal,” ungkapnya.
Oleh karena itu, Yafsin menilai peningkatan kompetensi guru merupakan kebutuhan yang harus terus dilakukan. Guru SLB dituntut mampu memahami berbagai karakteristik peserta didik sehingga layanan pendidikan yang diberikan tidak bersifat seragam.
Kegiatan yang digagas SLBN 2 Kolaka tersebut akhirnya menjadi ruang berbagi pengalaman dan penguatan kapasitas bagi guru-guru SLB di tiga wilayah. Kehadiran 12 SLB dari Kolaka, Kolaka Utara, dan Kolaka Timur menunjukkan adanya kebutuhan yang kuat terhadap pelatihan identifikasi dan asesmen sebagai bagian penting dalam memberikan layanan pendidikan yang lebih tepat dan individual bagi peserta didik berkebutuhan khusus.
Penulis : Arkana Sakha Wiratama


Comment